Advertisement

Saturday, July 24, 2010

Koleksi Do'a - Do'a Para Sholihiin

Mengapa kita harus berdoa?

Berdo’a itu merupakan kebutuhan rohaniah yang sangat diperlukan oleh manusia didalam menapaki kehidupan ini, terutama pada saat manusia itu sedang ditimpa permasalahan, musibah, malapetaka, kesusahan serta kasulitan.

Sebagian ‘ulama mengibaratkan bahwa do’a itu laksana obat bagi penyakit ruhaniah, seperti cemas, takut, rusuh, ragu-ragu, bimbang, bingung, galau dan banyak lagi penyakit-penyakit ruhani lainnya. Sebagai orang yang beragama atau orang yang mempunyai keimanan, berdoa merupakan suatu kewajiban atau keharusan.
Allaah Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman :

......ﺍﺪ ﻋﻮﻨﻲ ﺍﺴﺘﺠﺐ ﻟﻜﻢ ۗ......

“ Ud ‘uunii astajib lakum “
Artinya : “ Berdo’a lah kalian kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan do’amu itu “.
( Al Quran Surat Mu’min Ayat 60 ).

Begitu pula didalam Hadits Qudsi Allaah Subhaanahu Wa Ta’ala berfiman :

ﻤﻦ ﻻ ﻴﺪﻋﻮﻧﻲ ﺍﻏﺿﺎﺏ ﻋﻟﻴﻪ

“ Man laa yad’uunii aghdhoobu ‘alaihi “
Artinya : “ Barang siapa yang tidak berdo’a kepada-Ku, niscaya Aku murka kepadanya”.
(Diriwayatkan oleh ‘Askari yang bersumber dari Abu Huroiroh).

Didalam kehidupan masyarakat modern sekarang ini,
tidak sedikit orang-orang yang tidak suka berdo’a, bahkan memandang sinis terhadap do’a.. lebih parahnya lagi ada banyak kalimat-kalimat atau kata-kata yang sifatnya ejekan, ya’ni mengejek kepada orang yang gemar membaca do’a. mengapa sampai terjadi seperti itu ? saya pribadi sangat sulit rasanya untuk bisa menemukan jawaban yang tepat untuk pertanyaan tersebut. Ada kemungkinan orang yang gemar membaca do’a itu dianggapnya sebagai orang yang malas. Atau ada juga kemungkinan orang yang bersangkutan belum mengetahui atau belum mengerti sepenuhnya mengenai ma’na dan hakikat berdo’a. dan untuk mengetahui sejauh mana kebenaran anggapan tersebut, sudah tentu memerlukan penelitian lebih lanjut.

Terlepas dari anggapan diatas, yang jelas berdo’a itu adalah perbuatan ibadah bagi orang yang beriman. Disamping berdo’a itu termasuk sebagai pekerjaan ibadah, berdo’a juga sangat membantu kita didalam menghadapi berbagai macam persoalan yang tidak diinginkan oleh hati nurani kita.

Dr Alex Carrel pengarang buku “ man the unknown “ mengatakan berdo’a adalah laksana radium yang mengandung sumber tenaga, yang bercahaya dan membangunkan”.
Dari pernyataan diatas nampaklah bahwa berdo’a itu sangat besar manfaatnya didalam hidup dan kehidupan kita.

Berdoa dapat membuat rohaniah kita semakin kuat dan dengan berdo’a juga, dapat menumbuhkan semangat berjuang serta menyuburkan sikap optimistis terhadap manusia.
Mengenai hal ini, sudah lebih dari 1400 tahun yang lalu Nabi Muhammad Shollallaahu ‘Alaihi Wa Aalihi Wa Sallam pernah bersabda :

ﺍﻟﺪﻋﺎﺀ ﺴﻼﺡ ﺍﻟﻤﺆﻤﻦ ﻮﻋﻤﺎﺪ ﺍﻟﺪﻴﻦ ﻮﻧﻮﺮﺍﻟﺴﻤﻮﺍﺕ ﻮﺍﻻﺮﺾ

“ Ad-Du’aa-u Silaahul Mu’mini Wa’Imaadud Diini Wa Nuurus Samaawaati Wal Ardhi”. ( Rowaahu Abu Ya’la Wal Haakim )

Artinya : ” Do’a itu adalah senjata orang mukmin, tiang agama dan cahaya langit dan bumi ”. ( Diriwayatkan oleh Abu Ya’la dan Haakim).

Sebagai orang yang beragama dan mempunyai iman, kita harus percaya serta meyakini bahwa pekerjaan berdo’a itu adalah ‘ibadah. Akan tetapi kebanyakan manusia baru berdo’a kepada Allaah Subhaanahu Wa Ta’aala manakala ia sedang mendapat kesusahan atau sedang ditimpa bencana. Sebaliknya manakala ia sedang berada didalam keadaan mapan, senang, sudah aman dan tenang atau sedang mendapatkan ni’mat kebahagiaan, jangankan melakukan berdo’a malah terkadang ia sampai melupakan Allaah Subhaanahu Wa Ta’aala. (Na’uudzu Billaahi Min Dzalik). Berdo’a hanya diperlakukan sebagai alat menambal kebutuhan saja. Ia merasa atau menganggap ni’mat yang diperolehnya itu adalah semata-mata karena hasil keringat atau hasil usahanya sendiri. Padahal sesungguhnya dia, tanpa mendapatkan inayah (bantuan) dari Allaah Subhaanahu Wa Ta’aala, sungguh dia tidak akan bisa mengenyam atau merasakan ni’mat itu.

Sikap jiwa yang seperti itu sangat tidak baik sekali. Dia hanya mempergunakan do’a hanya sebagai tempat lari untuk memperoleh jalan keluar dari kesulitan yang sedang menghimpitnya. Kalau sudah demikian dia menempatkan do’a pada posisi atau tempat yang bukan sebagai fungsinya adalah sebagai kerangka ibadah yang harus dikerjakan dengan tertib dan secara mudawamah (kontinyu) tanpa memandang waktu dan keadaan.

Allaah Subhaanahu Wa Ta’aala didalam Al Quran Surat Fushshilat ayat 51 telah berfirman tentang bagaimana sikap dan sifat yang demikian itu sudah menjadi tabi’at atau kebiasaan manusia :

ﻮﺍﺬﺍ ﺍﻨﻌﻤﻧﺎ ﻋﻟﻰﺍﻻﻧﺴﺎﻦﺍﻋﺮﺽﻮﻧﺎﺒﺠﺎﻧﺒﻪۚ ﻮﺍﺬﺍﻤﺴﻪﺍﻠﺷﺮﻔﺬﻮﺪﻋﺎﺀ ﻋﺭﻴﺾ

“ Wa idzaa An’amnaa ‘Alal Insaani A’rodho Wa Na_Aa Bijaanibihii, Wa Idzaa Massahusy Syarru Fadzuu Du’aa_in ‘Ariidhin.

Artinya : “ Apabila Kami berikan ni’mat kepada manusia, dia memalingkan diri dan berlaku sombong. Tetapi apabila bahaya datang menimpanya, dia berdo’a panjang lebar ”. (Surat Fushshilat ayat 51)

Sebagai seorang mu’min sudah sepatutnya untuk melakukan berdo’a baik ketika berada diwaktu senang maupun pada saat merasakan susah. Adapun mengenai berdo’a itu sendiri haruslah dihadapkan hanya kepada Allaah Subhaanahu Wa Ta’aala semata. Tidak boleh kita berdo’a kepada benda-benda lain, harus langsung kepada Allah Subhaanahu Wa Ta’aala.

0 comments: